Ilustrasi vaksin Covid-19 (Doc.Int).

BIOma – Program vaksinasi Covid-19 mulai menyebar ke masyarakat umum. Hal ini tentunya dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19. Di Indonesia, jenis vaksin yang banyak digunakan adalah vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca. Meskipun memiliki tujuan yang sama yakni sebagai imunitas tubuh agar tidak terpapar virus SARS-Cov-2, kedua jenis vaksin ini memiliki beberapa perbedaan.

Dilansir dari laman cnbcindonesia.com, perbedaan antara kedua jenis vaksin ini di antaranya :

  • Teknologi Pembuatan

Vaksin Sinovac memanfaatkan virus SARS-Cov-2 yang telah dimatikan (inactivated) untuk memicu respons imun. Sementara vaksin AstraZeneca menggunakan virus adeno hidup (adenovirus) yang telah dimodifikasi sebagai ‘pengirim’ protein khusus. Protein tersebut akan menginstruksikan sel tubuh untuk memproduksi sebagian kecil dari virus Corona yang kemudian memicu respons imun.

  • Efikasi

World Health Organization (WHO) menyebut vaksin Sinovac memiliki nilai efikasi mencegah 51% kasus Covid-19 bergejala pada orang berusia 18 tahun ke atas. Sementara itu, vaksin AstraZeneca disebut WHO 63,09% efektif dalam mencegah kasus Covid-19 bergejala.

  • Efek Samping

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) menyebut ada sekitar 10.000 laporan KIPI non-serius dan 200 KIPI serius terkait vaksin Sinovac hingga bulan Mei 2021. Sementara itu, Komnas KIPI menyebut ada sekitar 9.000 kasus KIPI non-serius dan 18 kasus KIPI serius terkait penggunaan vaksin AstraZeneca hingga bulan Mei 2021.

Kasus KIPI non-serius meliputi keluhan-keluhan ringan yang tidak membutuhkan perawatan dan bisa sembuh sendiri. Ini meliputi masalah demam, nyeri, mual, dan kelelahan usai divaksinasi. Sementara KIPI serius adalah keluhan yang sampai membuat pasien dirawat inap.

  • Rentang Dosis

Dalam rangka pemberian efek perlindungan optimal, dua dosis vaksin Sinovac diberikan dalam rentang 28 hari atau tiga minggu. Sedangkan, vaksin AstraZeneca dosis kedua diberikan dalam rentang waktu 12 minggu atau sekitar tiga bulan.

Adanya perbedaan jenis vaksin ini, Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Iris Rengganis menegaskan agar masyarakat tidak memilih-milih jenis vaksin yang akan diberikan.

Takutnya virusnya mutasi terusmenerus dan efektivitasnya (vaksin) makin menurun. Kita jangan memilih-milih vaksinnya.” tegasnya.

Reporter : RM 10

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *