Penerimaan materi oleh Ahkamul Ihkam Mada (Doc. LPM BIOma)

BIOma – Peserta Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) Tahun 2024 menerima materi Jurnalistik, Undang-Undang Pers, dan Kode Etik Jurnalistik yang dibawakan oleh Ahkamul Ihkam Mada, selaku Koordinator Advokasi PPMI DK Makassar. Penerimaan materi berlangsung di Rumah Adat Ujung Pandang, Benteng Somba Opu, Sabtu (30/03).

Seorang jurnalis memiliki peran dan tanggung jawab yang besar terhadap apa yang mereka sampaikan. Sebagai pemberi informasi, jurnalis ternyata tidak selamanya bersifat netral, sesuai dengan berita yang ditulisnya, jurnalis bisa memihak korban dalam berita yang ditulisnya untuk menindaklanjuti sebuah kasus yang membutuhkan keadilan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ahkamul lewat beberapa contoh kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia.

“Tanggung jawab seorang jurnalis adalah menyampaikan informasi kepada pembaca, yang mana dalam hal ini penyampaian informasi tersebut harus benar-benar sampai pada pembaca,” jelasnya.

Hal ini juga berkaitan dengan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Di mana, Undang-Undang Pers merupakan pelindung bagi seorang jurnalistik dalam menjalankan tugasnya, selama Kode Etik Pers tidak dilanggar oleh jurnalis tersebut.

“Konsekuensi yang akan didapatkan oleh seorang jurnalis ketika melanggar atau tidak mengikuti Kode Etik Pers adalah kehilangan hak pers nya,” lanjutnya.

Natasya Zara, salah satu calon reporter LPM BIOma HMJ Biologi FMIPA UNM mengatakan bahwa materi ini memberikan informasi baru bahwa dalam melakukan peliputan dan penulisan berita ada Kode Etik Pers yang harus ditaati untuk mendapatkan perlindungan Undang-Undang Pers. Selain itu, Natasya Zara juga mengungkap bahwa melalui materi ini, ia mengetahui produk jurnalistik tidak selamanya berupa tulisan, namun juga dapat berupa video dokumenter, podcast, dan masih banyak lagi.

“Seorang jurnalis penting memahami Kode Etik Jurnalistik, karena dalam melakukan peliputan dan penulisan berita ada beberapa batasan seperti dalam hal penulisan nama narasumber, di mana ada batasan usia yang menjadi acuan apakah seorang narasumber boleh atau tidak disebutkan namanya,” ungkapnya.

Reporter: Ihdatur Rahmah

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *