BIOma – Lonjakan populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) di perairan Jakarta menjadi tanda serius bahwa ekosistem sungai sedang mengalami tekanan. Ikan yang semula dikenal sebagai pembersih akuarium ini kini berkembang pesat di perairan umum dan mulai mendominasi ruang hidup ikan lokal.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) bukan merupakan ikan asli Indonesia. Ikan ini memiliki daya tahan tinggi, tubuh keras, serta mampu hidup di perairan dengan kualitas rendah. Kondisi tersebut membuat ikan sapu-sapu lebih mudah bertahan di sungai yang tercemar dibandingkan sejumlah ikan lokal yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Fakta ini diperkuat oleh penelitian Mujadid, dkk. (2025) di Sungai Ciliwung. Studi tersebut menemukan bahwa ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) termasuk salah satu spesies dengan kelimpahan tertinggi. Dari 37 spesies ikan yang tercatat, 11 di antaranya merupakan spesies eksotik. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan ikan asing invasif telah menjadi bagian dari perubahan struktur komunitas ikan di Sungai Ciliwung.
Dampaknya terhadap ikan lokal tidak dapat dianggap ringan. Keberadaan ikan sapu-sapu dapat memicu persaingan makanan dan ruang hidup. Penelitian Hussan dkk. (2025) juga menunjukkan bahwa Pterygoplichthys pardalis dapat mengganggu keberlangsungan ikan lokal melalui predasi telur dan penurunan pertumbuhan pada ikan asli.
Oleh karena itu, pengangkatan massal ikan sapu-sapu memang penting, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan masalah. Selama sungai masih tercemar dan habitat ikan lokal terus tertekan, ikan sapu-sapu tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Pada akhirnya, lonjakan ini menjadi peringatan ekologis. Ketika sungai kehilangan kualitasnya, spesies invasif justru menemukan tempat untuk bertahan, sementara ikan lokal semakin tersingkir dari habitatnya sendiri.
Reporter: Vika Putri
![]()

