BIOma – Kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman Hantavirus kini tengah ditingkatkan guna menekan risiko penularan yang bersifat fatal. Mengutip edukasi kesehatan dari dr. Dewangga Gegap Gempita, MARS, patogen yang bersumber dari hewan pengerat ini memiliki tingkat bahaya serius karena menyerang sistem pernapasan manusia secara masif.
Jalur transmisi utama terjadi melalui udara yang terkontaminasi oleh partikel air liur, urine, atau kotoran tikus yang terhirup ke saluran pernapasan. Selain itu, kontak langsung dengan benda yang telah tercemar tanpa penggunaan alat pelindung diri juga menjadi faktor risiko masuknya virus ke dalam tubuh manusia.
Infeksi awal umumnya ditandai dengan gejala yang menyerupai flu biasa, meliputi demam, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem. Namun, dr. Dewangga menegaskan bahwa keterlambatan penanganan medis dapat berakibat fatal karena terjadinya penumpukan cairan di paru-paru yang memicu sesak napas akut bagi penderitanya.
Melansir dari laporan BBC Indonesia, para ahli menekankan bahwa Hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia. Meskipun tidak berpotensi menjadi pandemi layaknya Covid-19, penyakit ini tetap dikategorikan sebagai ancaman kesehatan yang mematikan dengan tingkat fatalitas mencapai kisaran 38 persen.
Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin atau antivirus spesifik yang mampu melumpuhkan infeksi Hantavirus secara langsung. Tindakan medis yang tersedia masih terbatas pada perawatan intensif di rumah sakit untuk membantu stabilitas pernapasan pasien serta upaya mengeluarkan cairan dari paru-paru.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan hunian agar terbebas dari sarang tikus menjadi langkah mitigasi yang paling rasional untuk dilakukan. Masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas, demi memutus rantai persebaran virus berbahaya tersebut
Reporter: Fatimah Azzahra
![]()

