BIOma – Keanekaragaman flora merupakan salah satu kekayaan alam terbesar yang dimiliki Indonesia. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menyimpan ribuan jenis tanaman yang tersebar dari hutan tropis, pegunungan, rawa, hingga wilayah pesisir. Tumbuhan-tumbuhan ini memegang peran kurusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi sumber pangan, bahan obat-obatan, serta penopang utama kehidupan makhluk hidup lainnya.
Kekayaan yang belum sepenuhnya terpetakan ini dibuktikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mencatat penemuan 29 spesies flora baru di Indonesia sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Melalui kolaborasi riset nasional dan internasional, puluhan spesies baru tersebut akhirnya berhasil dideskripsikan secara ilmiah, seperti yang dirilis melalui kanal berita ANTARA News. Tumbuhan yang baru ditemukan ini berasal dari beragam kelompok genus flora unik, mulai dari kelompok keladi hias, begonia, anggrek, kantong semar, azalea hutan, tumbuhan parasit, hingga pohon-pohon hutan tropis yang selama ini tersembunyi dari jangkauan sains.
Eksplorasi yang dilakukan para peneliti berhasil mengidentifikasi kekayaan tak ternilai ini secara mendetail. Pada kelompok keladi hias, ditemukan Homalomena mamasaensis di Mamasa, Homalomena belitungensis di Pulau Belitung, Homalomena chikmawatiae di Riau, serta varietas lainnya seperti Homalomena primitiva, Homalomena atroviridis, dan Homalomena punctata. Kekayaan lantai hutan tropis juga diperkaya oleh kelompok begonia yang meliputi Begonia wallichiana, Begonia standardii, Begonia subcaudata, Begonia jeparaensis yang ditemukan di Jawa Tengah, serta Begonia longifolia. Tidak ketinggalan, kelompok anggrek eksotis turut bertambah dengan ditemukannya Dendrobium nataliae, anggrek endemik Bulbophyllum sulawesiense, Coelogyne integration, dan Robiquetia gideonii.
Penemuan luar biasa ini juga menyisir tanaman pemakan serangga dan tumbuhan unik lainnya di berbagai pelosok daerah. Jenis kantong semar baru berhasil diidentifikasi melalui Nepenthes harauensis dari Lembah Harau serta Nepenthes spectabilis. Sementara itu, wilayah pegunungan menyumbang kerabat azalea hutan baru, yaitu Rhododendron javanicum var. album serta Rhododendron celebicum yang merupakan endemik Sulawesi. Kelompok tanaman parasit raksasa juga mencatatkan nama baru melalui spesies Rafflesia tiomanensis dan Rafflesia arnoldii var. keithii. Selain tanaman hias, para peneliti juga mendeskripsikan jenis jahe-jahean Zingiber engineering, tanaman semak Cyrtandra kapoorii, Ardisia sumatrana, Strobilanthes crispus var. javanica, hingga pohon hutan bernilai ekologis tinggi seperti Ficus microcarpa var. latifolia, Syzygium microphyllum, Garcinia celebica, dan Guioa microphylla.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan bahwa penemuan masif ini harus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati nasional. Dalam keterangannya di situs resmi BRIN, ia menjelaskan bahwa wilayah seperti Papua, Kalimantan, serta berbagai daerah di luar Pulau Jawa masih menyimpan potensi flora luar biasa yang belum diteliti secara maksimal. Guna menekan kesenjangan riset tersebut, eksplorasi lapangan dan ekspedisi lanjutan di luar Pulau Jawa mutlak diperlukan agar potensi tanaman obat atau tanaman penyerap karbon tinggi dapat segera dimanfaatkan lewat sains demi kemaslahatan bersama.
Senada dengan hal tersebut, pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menilai bahwa penemuan spesies baru ini sangat vital bagi status Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia. Data hasil identifikasi di lapangan tidak hanya mendukung fungsi konservasi dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang besar bagi pemanfaatan sumber daya hayati yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat luas.
Namun, upaya menyingkap rahasia alam ini sedang berkejaran dengan waktu. Organisasi lingkungan WWF Indonesia mengingatkan bahwa tantangan konservasi saat ini semakin kompleks akibat ancaman nyata dari perubahan iklim, kerusakan habitat, polusi, serbuan spesies invasif, hingga eksploitasi alam yang berlebihan. Jika riset biodiversitas dan upaya perlindungan tidak diperkuat dari sekarang, Indonesia berada dalam risiko besar kehilangan kekayaan alam yang tak ternilai bahkan sebelum spesies-spesies misterius tersebut sempat dikenali secara ilmiah oleh peradaban manusia.
Reporter: RM 5
![]()

