BIOma – Dialog Refleksi bertajuk “Masa Depan Pendidikan di Bawah Rezim Prabowo-Gibran” telah berlangsung di Taman PLN UIN Alauddin Makassar, Senin (18/11).
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dari berbagai universitas ini membahas isu-isu pendidikan dan kebebasan akademik di Indonesia.
Aldi, mahasiswa UIN Alauddin Makassar (UINAM), mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebijakan yang membatasi ruang gerak mahasiswa.
“SE 3652 cukup berdampak buruk di UINAM. Dalam beberapa gerakan kemarin, kami tetap diintimidasi. Bahkan, banyak teman kami yang diskors. Bagaimana masa depan kita nantinya?,” tanyanya. Menunjukkan ketidakpastian yang dirasakan mahasiswa terkait kebebasan berpendapat dan masa depan akademis mereka.
Ali, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI), membandingkan situasi kampus saat ini dengan era Orde Baru.
“Pendidikan seharusnya diberikan secara gratis dan universal, tetapi biaya pendidikan kini meningkat hingga tiga kali lipat,” ujarnya sambil mengkritik kebijakan rektor dan dekan yang dianggap intimidatif.
Sementara itu, Fahri dari Universitas Negeri Makassar (UNM) menyebutkan tanda-tanda awal pembungkaman demokrasi di kampusnya melalui kebijakan jam malam.
“Cikal bakal pembungkaman demokrasi sudah ada. Intervensi dari rektorat semakin menghambat gerakan mahasiswa,” tegasnya.
Tegar, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), menyoroti perlakuan terhadap mahasiswa yang dianggap sebagai komoditas keuangan.
“Beberapa fakultas saat ini ketakutan karena Unhas tidak segan-segan memberikan sanksi kepada mahasiswa untuk kesalahan kecil,” ungkapnya.
Yian dari UMI juga menambahkan bahwa korupsi di lingkungan pendidikan menjadi penyebab utama lemahnya demokrasi di kampus.
“Di UMI, sudah 31 mahasiswa di DO dalam melakukan demonstrasi,” katanya, menggambarkan betapa seriusnya kondisi yang dihadapi mahasiswa.
Diskusi ini mencerminkan kekhawatiran mendalam mahasiswa terhadap kebebasan akademik dan integritas pendidikan. Para peserta berharap suara mereka didengar dan dijadikan pertimbangan oleh pihak terkait untuk memperbaiki kondisi pendidikan tinggi di Indonesia.
Reporter: Andi Muh. Kholil Gibran & Besse Afidah Tulutfiah
![]()

