Mengenal Apa itu Long Covid-19 Serta Cara Mengatasinya

Ilustrasi penyebaran long covid-19 (Doc. Int)

BIOma – Covid-19 adalah suatu wabah yang telah melanda dunia beberapa tahun terakhir ini. Penyakit virus corona (Covid-19) adalah penyakit yang menular yang disebabkan oleh virus. Sebagian besar orang yang tertular Covid-19 akan mengalami gejala ringga hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus. Namun, sebagian orang mengalami sakit parah dan memerlukan bantuan medis. Beberapa kasus juga ada yang mengalami efek long Covid atau gejala yang berkepanjangan.

Long Covid adalah kondisi seorang penderita Covid-19 masih merasakan gejala penyakit-penyakit tersebut dalam jangka waktu yang lama, bahkan setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Gejala-gejala ini dapat berlangsung sekitar 4-5 minggu, bahkan hingga bulanan. Menurut sebuah studi yang dipimpin oleh University of Leicester, 70% dari 1000 pasien yang dirawat di rumah sakit di inggris pada tahun 2020 belum sepenuhnya pulih hingga rata-rata lima bulan setelah meninggalkan rumah sakit. Di Indonesia sendiri, terdapat 63,5% penderita Covid-19 mengalami Long Covid. Studi tersebut juga menjelaskan bahwa wanita dan lansia yang paling terpengaruh oleh gejala jangka panjang dari infeksi virus corona.

Dilansir dari Badanpom, gejala dari Long Covid-19, yaitu: (1) Kelelahan, kelelahan merupakan gejala yang paling banyak dirasakan pada Long Covid-19, kelelahan ini dapat menetap hingga 100 hari sejak gejala awal Covid-19 akut. Belum terdapat penelitian yang menjelaskan tentang intervensi farmakologis atau nonfarmakologis pada kelelahan setelah Covid-19 ini, (2) Sesak napas, pasien yang sembuh dari Covid-19 mengalami penurunan fungsi paru sebesar 20-30% dan gangguan pertukaran oksigen sehingga kesulitan dalam bernapas terutama saat beraktivitas, (3) Kekakuan sendi dan nyeri, keluhan ini terjadi pada pasien Covid-19 berat yang dirawat dengan tirai baring (bed rest) lama yang menyebabkan penurunan kekuatan otot 10-15% tiap minggunya. Penurunan kekuatan otot dapat mengurangi pergerakan sendi sehingga menimbulkan kekakuan dan nyeri, (4) Gangguan kognisi (gangguan yang mempengaruhi kemampuan berpikir), gangguan fungsi ini dapat disebabkan karena infeksi virus langsung pada susunan saraf pusat atau karena kekurangan oksigen dalam darah (hipoksemia). Keluhan dapat berupa gangguan memori dan fungsi eksekutif (kontrol diri, memori kerja, fleksibilitas mental). Sampai saat ini belum diketahui pasti mengapa terjadi pemulihan berkepanjangan. Adapun faktor yang diduga, yaitu karena faktor genetik, kerusakan organ akibat Covid-19, kegagalan organ akut, respons imun terhadap virus dan sifat virus itu sendiri, sindrom dekondisi (berkurangnya fungsi anatomi dan fisiologi), serta faktor psikis seperti stress post trauma.

Dilansir dari Tempo.co, beberapa cara mengatasi Long Covid, yaitu: (1) Latihan pernapasan, bisa membantu mengelola sesak napas atau napas pendek yang dirasakan, (2) Cara mengendalikan batuk, terdapat dua macam batuk yang dapat terjadi pada orang yang mengalami Long Covid-19, yakni batuk kering dan batuk berdahak. Cara mengatasi batuk kering, hidrasi tubuh dengan baik, hirup uap hangat dengan cara tuangkan air panas ke dalam mangkuk lalu hirup uap hangatnya atau minum madu hangat dan lemon. Sedangkan cara mengatasi batuk berdahak, hidrasi tubuh dengan baik, cobalah berbaring di kedua sisi, sedater mungkin, ini berfungsi untuk membantu mengeluarkan dahak. Jadi, kita harus tetap selalu menjaga protokol kesehatan dan memakan makanan yang dapat meningkatkan ketebalan tubuh karena Covid-19 ini tidak dapat dianggap sepeleh.

Reporter: Nurul Fitriani

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *