BIOma – Virus Nipah menjadi perhatian dalam perkembangan isu kesehatan internasional karena potensi penularannya yang tinggi serta dampak kesehatan yang serius. Virus ini termasuk penyakit zoonotik yang berasal dari hewan, dengan kelelawar pemakan buah (Pteropus) sebagai reservoir alami. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan virus Nipah sebagai salah satu patogen prioritas global. Dilansir dari kontan.co.id, WHO menegaskan bahwa upaya pencegahan perlu difokuskan pada pengurangan risiko penularan di tingkat masyarakat dan penguatan sistem kesehatan.
“Mengurangi paparan manusia terhadap kelelawar dan hewan perantara merupakan langkah penting untuk mencegah penularan virus Nipah,” ujarnya.
Di Indonesia, kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus Nipah turut diperkuat. Dilansir dari detikHealth, Kementerian Kesehatan meningkatkan pengawasan di pintu masuk negara serta memperketat sistem surveilans penyakit menular sebagai langkah antisipasi dini.
Dari perspektif ilmiah, publikasi jurnal internasional tahun 2025 yang terindeks PubMed menunjukkan bahwa virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi serta potensi penularan antarmanusia, meskipun masih terbatas. Penelitian tersebut menekankan bahwa penularan ke manusia kerap dipicu oleh interaksi tidak langsung, seperti konsumsi makanan yang terkontaminasi, sehingga pencegahan berbasis ekologi dan deteksi dini menjadi sangat penting.
Upaya pencegahan virus Nipah memerlukan pendekatan terpadu antara rekomendasi global, kebijakan nasional, dan pemahaman ilmiah. Penguatan sistem kesehatan serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi ancaman penyakit zoonotik di masa mendatang.
Reporter : Nurul Inayah
![]()

