BIOma – Dunia paleontologi kembali dikejutkan oleh penemuan spektakuler yang menantang pemahaman kita mengenai sejarah evolusi dinosaurus. Sebuah tim peneliti internasional baru-baru ini mengumumkan penemuan spesies dinosaurus baru di Spanyol dengan ukuran tubuh yang sangat mungil, hanya seukuran ayam modern. Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang biodiversitas masa lampau, tetapi juga menjawab tanda tanya mengenai strategi bertahan hidup serta penganekaragaman dinosaurus herbivora pada Periode Kapur Awal (Early Cretaceous).
Jejak si mungil ini teridentifikasi di wilayah Provinsi Burgos, Spanyol Utara. Sebagaimana dihimpun dari laman Tugumalang.id, spesies ini diberi nama ilmiah Foskeia pelendonum. Nama tersebut merupakan perpaduan filosofis antara bahasa Yunani kuno “Fos” yang berarti Cahaya merujuk pada bobot tubuhnya yang ringan serta “pelendonum” sebagai penghormatan kepada suku Pelendones, masyarakat Celtiberian yang menghuni wilayah tersebut di masa lalu. Berdasarkan penanggalan geologis, Foskeia diperkirakan telah menjelajahi Bumi sekitar 120 hingga 125 juta tahun silam.
Ketertarikan peneliti terhadap spesies ini bukan tanpa alasan, melainkan karena dimensi fisiknya yang unik untuk ukuran dinosaurus. Melansir data dari BBC Indonesia, Foskeia pelendonum hanya memiliki tinggi sekitar 25 hingga 30 sentimeter dengan panjang tubuh mencapai setengah meter saja. Ukuran yang sangat ringkas ini menempatkannya sebagai salah satu dinosaurus Ornithopoda terkecil yang pernah dideskripsikan di Eropa, bahkan di kancah global.
Melihat ukurannya yang tak biasa, para ahli awalnya sempat meragukan temuan tersebut dan menduga bahwa fosil-fosil itu hanyalah sisa tulang dari individu bayi (juvenil). Namun, keraguan itu terpatahkan melalui analisis histologi tulang yang mendalam. Sebagaimana diungkapkan melalui GenLink.co.id, Dr. Koen Stein menegaskan bahwa struktur mikro tulang menunjukkan hewan ini telah mencapai tahap dewasa saat mati. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa tubuh mungil Foskeia adalah hasil murni dari proses evolusi miniaturisasi, bukan sekadar pertumbuhan yang belum selesai.
Keunikan Foskeia pun merambah ke aspek morfologi tengkoraknya yang distingtif. Berbeda dengan kerabat besarnya seperti Iguanodon, tengkorak Foskeia cenderung padat dengan susunan gigi yang spesifik, salah satu gigi depannya bahkan memiliki bentuk menyerupai trisula. Struktur gigi tersebut mengindikasikan adanya spesialisasi diet yang memungkinkan mereka mengunyah vegetasi tangguh secara efisien sebuah bentuk adaptasi fungsional yang luar biasa.
Lebih jauh lagi, penemuan ini memberikan implikasi besar dalam memetakan filogeni dinosaurus. Berdasarkan laporan Sigap88news.co.id, spesies ini diklasifikasikan ke dalam kelompok Rhabdodontomorpha, kelompok herbivora yang sebelumnya minim catatan fosil pada periode Kapur Awal. Kehadiran Foskeia pun berhasil mengisi celah kosong (gap) sejarah evolusi kelompok ini yang sempat misterius selama kurang lebih 70 juta tahun.
Menariknya, analisis filogenetik ini justru menempatkan Foskeia dalam kekerabatan yang dekat dengan Muttaburrasaurus, jenis dinosaurus yang ditemukan jauh di Benua Australia. Hubungan trans-kontinental ini memberikan perspektif baru mengenai pola persebaran atau biogeografi dinosaurus di masa lalu yang ternyata jauh lebih luas dan dinamis daripada dugaan sebelumnya.
Eksistensi Foskeia juga mengubah paradigma kita terhadap ukuran tubuh dalam rantai makanan. Jika biasanya ukuran kecil dianggap sebagai kerugian di tengah dominasi predator raksasa, bagi Foskeia pelendonum, ukuran mini justru menjadi kunci keberlangsungan hidup. Para peneliti berhipotesis bahwa kombinasi tubuh kecil dan kaki yang kuat memungkinkan dinosaurus ini bergerak lincah untuk bersembunyi di balik vegetasi hutan lebat guna menghindari ancaman predator.
Paul Emile Dieudonné, pemimpin studi dari Universitas Nasional Río Negro, menyatakan bahwa temuan ini adalah bukti nyata bahwa evolusi tidak selalu mengarah pada gigantisme.
“Dinosaurus berukuran kecil jauh lebih beragam daripada yang kita duga. Ukuran kecil adalah hasil eksperimen evolusi yang cerdas untuk bertahan hidup,” ungkapnya.
Penemuan Foskeia pelendonum menjadi pengingat bahwa narasi sejarah kehidupan di Bumi masih menyimpan banyak rahasia. Fosil mungil ini mengajarkan bahwa dominasi tidak melulu soal ukuran raksasa, melainkan tentang presisi adaptasi. Kehadiran dinosaurus ayam ini menuntut para ilmuwan untuk meninjau kembali pohon evolusi Ornithopoda dan memberikan apresiasi lebih pada fosil-fosil kecil yang sering kali terabaikan, namun sebenarnya menyimpan pencerahan besar bagi ilmu pengetahuan.
Reporter: Nisharieva Filani
![]()

