BIOma – Tim peneliti dari Universitas Indonesia (UI) berhasil menemukan spesies baru bakteri termofilik (mikroorganisme pencinta suhu tinggi) bernama Thermus javaensis sp. nov. Bakteri ini unik karena mampu hidup pada lingkungan ekstrem yang mendekati titik didih air. Penemuan ini langsung menarik perhatian civitas akademika karena membuktikan besarnya potensi kawasan geotermal (panas bumi) Indonesia sebagai habitat berbagai mikroorganisme yang belum banyak diteliti.
Thermus javaensis berhasil diisolasi dari kawasan Geiser Cisolok, Sukabumi, yang memiliki suhu lingkungan mencapai 100°C. Mayoritas bakteri pada umumnya akan mati atau mengalami denaturasi (kerusakan struktur protein) akibat panas ekstrem, namun bakteri ekstremofil ini justru dapat bertahan dan berkembang dengan baik di habitat tersebut.
Laporan dari Mongabay Indonesia menunjukkan bahwa hasil uji laboratorium mencatat bakteri ini dapat tumbuh pada rentang suhu 45–80°C dengan suhu optimum sekitar 60–65°C. Fakta ini mengindikasikan adanya adaptasi fisiologis yang sangat khusus, di mana komponen penyusun dinding sel, membran sel, hingga struktur enzim di dalam tubuhnya tetap stabil dan fungsional pada suhu tinggi. Karakteristik tersebut membuat penemuan ini dinilai menjadi angin segar bagi pengembangan bidang bioteknologi dan industri modern.
Pemberian nama spesies “javaensis” merujuk pada Pulau Jawa sebagai lokasi awal ditemukannya mikroba tersebut. Temuan ini menjadi bukti autentik bahwa Indonesia menyimpan kekayaan biodiversitas mikroorganisme lokal yang luar biasa di kawasan panas bumi yang selama ini masih minim eksplorasi, sekaligus menjadi tambahan catatan penting dalam dunia mikrobiologi.
Laman resmi Universitas Indonesia melansir bahwa penelitian lanjutan terhadap Thermus javaensis membuka peluang besar dalam memproduksi enzim tahan panas (termostabil). Enzim jenis ini sangat dicari untuk mendukung efisiensi proses industrialisasi di berbagai sektor, mulai dari industri pangan, kesehatan, farmasi, hingga pemanfaatan energi terbarukan yang kerap kali membutuhkan suhu operasional tinggi.
Eksplorasi terhadap bakteri ekstremofil seperti ini juga memberikan kontribusi teoretis yang besar bagi perkembangan sains dasar. Karakteristik hidup Thermusjavaensis dapat membantu para ilmuwan untuk memetakan mekanisme adaptasi makhluk hidup pada kondisi ekstrem, sekaligus mendukung riset mendalam di bidang genetika molekuler, evolusi, hingga bioteknologi lingkungan.
Tim peneliti melalui rilis persnya berharap penemuan Thermus javaensis menjadi langkah awal untuk menginisiasi eksplorasi yang lebih luas terhadap mikroba indigenous (asli) Indonesia. Kawasan panas bumi Indonesia diimbau untuk terus dijaga kelestariannya karena masih menyimpan sejuta misteri mikrobiologis yang berpotensi besar bagi masa depan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Reporter: RM 3
![]()
