BIOma – Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar kuliah tamu dengan tema Protein Rekombinan: Aplikasinya dalam Bioteknologi Kesehatan dan Bioteknologi Pangan secara luring di Ruang Rapat Lantai 7 Gedung FMIPA UNM, Jumat (19/06).
Kuliah tamu menghadirkan Dr. Apon Zaenal Mustopa selaku Ketua Kelompok Riset Rekayasa Protein Virus BRIN sebagai narasumber. Acara dibuka oleh Wakil Dekan IV UNM, Ibu Dr. Suriati Eka Putri dan dipandu oleh Ibu Dr. Musawira. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa sebagai civitas akademika Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Ekspresi protein rekombinan bertindak sebagai alat utama. Bioteknologi kesehatan beserta bioteknologi pangan menjadi bidang penerapannya. Dr. Apon mengemukakan bantuan bioinformatika memampukan peneliti mendesain vaksin masa depan, termasuk memprediksi tingkat afinitasnya. Teknologi rekayasa genetika memungkinkan proses pembentukan protein baru. Tahapan kloning gen ke dalam plasmid dilakukan, menargetkan perolehan hasil kloning spesifik.
Pada bidang kesehatan, Dr. Apon menjelaskan ekspresi protein rekombinan menjadi pilar utama memproduksi produk biomedis massal, aman, spesifik. Fokus utamanya mencakup pengembangan vaksin hingga obat-obatan farmasi.
“Jadi, pengalaman kami untuk pengembangan protein rekombinan yang diaplikasikan untuk bidang kesehatan maupun pangan, kami mengembangkan vaksin HPV pada tahun 2019 dengan bantuan bioinformatika,” ungkapnya.
Bidang pangan memanfaatkan teknologi protein rekombinan dan rekayasa genetika untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan serta meningkatkan keamanan pangan di tengah perubahan iklim. Rekayasa genetika pada mikroba maupun tanaman pangan dilakukan untuk mengekspresikan protein yang tahan terhadap hama atau memiliki nilai gizi yang lebih tinggi. Untuk mengekspresikan protein rekombinan pada bidang pangan, peneliti terlebih dahulu menganalisis profil protein (proteomic) dari berbagai sumber daya hayati guna memperoleh produk yang terbaik.
Secara keseluruhan, Dr. Apon menekankan bahwa intervensi teknologi pada tingkat protein maupun genetik bukan lagi sekadar rencana masa depan, melainkan kebutuhan yang perlu dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional. Penguasaan dan intervensi teknologi rekayasa genetika ini adalah kunci utama untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya hayati kita, baik demi kemandirian kesehatan maupun ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjalin kerja sama erat antarlembaga. Jurusan Biologi FMIPA UNM bersama tim BRIN berpeluang melaksanakan penelitian terkait protein rekombinan. Kolaborasi tersebut diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan penelitian. Penerapan protein rekombinan mencakup bioteknologi kesehatan beserta bioteknologi pangan.
Reporter: Sitti Radiah Husna
![]()

