BIOma – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar kegiatan Kajian Strategis Biologi (KASTRAB) bertema Mencerdaskan Bangsa atau Memberi Makan? Kajian Strategis Prioritas Pendidikan Nasional dengan menghadirkan Budi Setiawan, sebagai pemantik diskusi. Rangkaian acara ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (18/07).
Pemenuhan kebutuhan dasar ditekankan oleh pemantik sebagai fondasi utama bagi sebuah bangsa.
“Kita tidak cukup kalau hanya memandang MBG sebagai program pemenuhan gizi semata. Kita harus melihat lebih jauh bahwa program ini juga bisa menjadi investasi untuk masa depan, khususnya investasi di bidang pendidikan,” jelasnya.
Sorotan kritis seketika datang dari peserta bernama Talqi yang menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum menjadi prioritas utama negara saat ini.
“Menurut saya MBG sebaiknya dipisahkan dari anggaran pendidikan. Alasannya karena saya melihat program ini merupakan program yang bersifat jangka pendek dan mengikuti visi pemerintahan saat ini, sementara keberlanjutannya di masa depan masih menjadi tanda tanya,” tegasnya.
Kondisi bangsa yang dinilai tidak sedang kelaparan membuat Talqi menyarankan pemerintah agar anggaran tersebut lebih difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan maupun kesejahteraan guru di tengah defisit APBN. Argumen tersebut didasari kekhawatiran pribadinya bahwa masyarakat perlahan diarahkan seolah-olah persoalan utama bangsa hanyalah urusan makan semata.
Respons lugas langsung diberikan oleh pemateri dengan mengajak peserta untuk lebih jeli melihat data empiris dan realitas kondisi masyarakat sekitar.
“Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangan gizi atau stunting dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Artinya, salah satu cara meningkatkan kemampuan berpikir anak adalah dengan memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi,” urainya.
Pandangan kritis lain turut disuarakan oleh Sulastri selaku peserta yang merasakan langsung dampak pemangkasan anggaran pendidikan, seperti berkurangnya pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Rp10 juta menjadi Rp8 juta akibat efisiensi.
“Program Makan Bergizi Gratis memang sangat penting untuk mendukung kesehatan peserta didik, tetapi pendidikan yang berkualitaslah yang membuat mereka menjadi generasi yang cerdas dan mampu mencerdaskan bangsa,” ungkapnya.
Sikap analitis semacam ini dipandang oleh pemantik sebagai hal yang mutlak dimiliki oleh elemen mahasiswa. Kritikan terhadap pelaksanaan, manajemen, distribusi, maupun pengawasan suatu kebijakan sangat sah dilontarkan selama mahasiswa menggunakan landasan data yang kuat serta fakta lapangan, bukan sekadar asumsi.
Polemik pemisahan anggaran pendidikan diakhiri dengan penegasan dari pemateri bahwa gizi dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipertentangkan. Pemerintah memandang MBG sebagai bagian tak terpisahkan dari investasi jangka panjang pendidikan, terbukti dengan tetap berjalannya program esensial seperti dana BOS dan tunjangan profesi guru di lapangan.
Akhir diskusi, tercatat bahwa kedua aspek tersebut dinilai harus senantiasa berjalan beriringan guna menciptakan generasi unggul. Pemenuhan gizi bertindak selaku fondasi awal bangunan, sedangkan pendidikan bertugas menuntaskan struktur kecerdasan anak bangsa dalam menyongsong berbagai tantangan di masa depan.
Reporter: RM 7
![]()

