Maperwa UNM Bedah Relasi Politik dalam Tata Kelola Pendidikan melalui Dialog Kebangsaan

Pekan Parlemen Nasional Dialog Kebangsaan (Doc. LPM BIOma)

BIOma – Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Dialog Kebangsaan bertema Analisis Struktural dan Relasi Kelembagaan Politik dalam Tata Kelola Pendidikan. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Pekan Parlemen Nasional 2026 yang berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton, Sabtu (25/04).

Dialog ini menghadirkan diskusi mengenai kompleksitas struktur politik dan pengaruhnya terhadap distribusi anggaran pendidikan. Fokus utama pembahasan tertuju pada bagaimana kebijakan publik lahir dari pertimbangan prioritas pejabat yang seringkali belum tersosialisasi secara mendalam ke masyarakat.

Ketua Panitia Pekan Parlemen Nasional, Aisyah Zahra Putri Arfi dalam laporannya menekankan bahwa forum ini dirancang untuk melampaui sekadar pertukaran gagasan. Ia menegaskan pentingnya luaran berupa kesadaran kritis mahasiswa agar tetap berpihak pada nilai keadilan dan prinsip kemanusiaan dalam memandang kebijakan pemerintah.

“Harapan kami semoga Dialog Kebangsaan tidak hanya berhenti sebagai forum diskusi, melainkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk terus berpikir secara kritis dan berpegang teguh pada nilai keadilan dan kemanusiaan,” tegasnya.

Salah satu peserta diskusi dengan inisial A.S.P.I., mahasiswa Jurusan Administrasi Kesehatan dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIKK) mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan membuka sudut pandang baru mengenai mekanisne pengelolaan anggaran. Meskipun aspek politik yang dibahas tergolong kompleks, pemahaman mengenai cara pejabat publik memandang masyarakat dalam proses pengambilan keputusan menjadi poin krusial yang diperoleh peserta.

“Pemaparan ini membuka perspektif baru bahwa anggaran pendidikan bukan sekadar angka teknis, melainkan cerminan prioritas politik dan cara pandang pemerintah terhadap masyarakat. Pemahaman mengenai posisi rakyat dalam pengambilan kebijakan menjadi wawasan paling berkesan yang mengubah pola pikir saya,” ungkapnya.

Dialog ini berakhir dengan penegasan bahwa pemahaman atas realitas politik adalah instrumen penting bagi mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam setiap perubahan regulasi pendidikan. Dengan berakhirnya dialog ini, tantangan selanjutnya terletak pada konsistensi peserta untuk menguji wawasan tersebut dalam ruang-ruang advokasi yang nyata.

Reporter: Nisharieva Filani & Fatimah Azzahraa

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *