Tuai Pro dan Kontra, Nama “Marketplace” Tidak Pantas Digunakan?

Ilustrasi Marketplace Guru (Doc. Int)

BIOma – Program Marketplace guru, yang sedang dipersiapkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, menuai banyak pro dan kontra dalam upaya menanggulangi permasalahan rekruitmen guru di Indonesia. Program ini rencananya akan diluncurkan pada tahun 2024.

Mekanisme program ini melibatkan lulusan guru yang telah memenuhi kualifikasi dan memiliki sertifikat mengajar untuk dimasukkan ke dalam database pemerintah yang dapat diakses oleh publik. Proses perekrutan guru akan dilakukan secara mandiri oleh sekolah, memberikan fleksibilitas kepada sekolah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Pemerintah juga menjamin bahwa formasi guru yang memiliki minat rendah akan tetap terisi.

Marketplace diharapkan dapat menjadi solusi untuk masalah ketimpangan dan kekurangan guru di sekolah-sekolah dengan mempercepat perekrutan 1 juta guru. Dengan adanya sistem yang terstruktur dan transparan, inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat.

Namun, beberapa pihak memiliki pandangan yang berbeda. Dikutip dari Instagram @infobandaaceh, salah satu komentar warganet mengkritik nama marketplace yang kurang cocok dan tidak etis digunakan untuk program ini.

“Salahnya cuman satu pak menurut saya yaitu nama ‘marketplace’ kenapa tidak menggunakan kalimat yang lebih bisa diterima di seluruh kalangan,” ujar @zf***

Dilansir dari liputan6.com, beberapa warganet juga menganjurkan untuk menunggu penjelasan lebih lanjut terkait sistem marketplace guru yang ditawarkan oleh Nadiem.

“Mending tunggu dulu kinerja pastinya gimana, jangan tiap ada trobosan baru langsung disalahartikan terus menerus, yang pastinya pak Nadiem dan tim punya ilmu pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Kalau belum apa-apa sudah ditolak, takutnya hal itu baik buat semua orang,” ujar @yellow_***

Reporter: Yaumil Maghfirah Armas

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *