BIOma – Kekayaan hayati Indonesia kembali menunjukkan keistimewaannya. Kali ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi tujuh spesies baru serangga daun dari genus Phyllium yang tersebar di sejumlah wilayah Nusantara, mulai dari Kalimantan hingga Papua.
Penemuan tersebut dilaporkan dalam jurnal ilmiah internasional ZooKeys edisi Oktober 2025 melalui artikel berjudul “A Deeper Look into the Diversity of Phyllium Leaf Insects from Indonesia: Seven New Species and Two Unique Egg Morphologies”. Publikasi ini menjadi bukti bahwa eksplorasi keanekaragaman serangga di Indonesia masih menyimpan banyak temuan penting.
Riset ini dipimpin oleh Royce T. Cumming dari Montreal Insectarium, Kanada, dan melibatkan kolaborasi peneliti lintas negara. Sejumlah akademisi Indonesia turut ambil bagian, di antaranya berasal dari Universitas Cenderawasih, Papua, serta Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Keterlibatan peneliti lokal menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam riset biodiversitas global.
Adapun tujuh spesies baru yang berhasil dideskripsikan, yaitu Phyllium boislardi dan Phyllium cayabyabi dari Kalimantan Utara, Phyllium crapulatum dari Kalimantan Barat, Phyllium hennemanni dari Sulawesi, Phyllium illusorium dari Pulau Buton, Phyllium morganae dari Pulau Yapen, Papua, serta Phyllium ouelleti yang ditemukan di Pulau Obi, Maluku Utara.
Tidak hanya memperkenalkan spesies baru, penelitian ini juga mengungkap dua tipe morfologi telur serangga daun yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Temuan ini dinilai penting karena bentuk telur dapat menjadi kunci dalam membedakan spesies sekaligus memahami hubungan evolusinya.
Dilansir dari britannica.com, serangga daun dikenal memiliki kemampuan kamuflase yang sangat baik dengan bentuk tubuh menyerupai daun hidup. Kemampuan ini membuat keberadaan mereka kerap sulit terdeteksi di alam. Masih banyak spesies serangga di Indonesia yang belum teridentifikasi, terutama di kawasan hutan tropis.
Dikutip dari mongabay.co.id, Bagus, seorang penemu serangga Phyllium gardabagusi yang telah dipublikasikan di jurnal ZooKeys pada tahun 2020, mengakui bahwa eksplorasi serangga di wilayah tengah hingga barat Indonesia lebih sering dilakukan. Sementara itu, wilayah timur masih jarang dieksplorasi sehingga potensi penemuan jenis serangga baru sangat besar.
Temuan ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Di sisi lain, penelitian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya upaya konservasi dan riset berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman terhadap habitat alami.
Reporter: Khusnul Khatimah
![]()

