BIOma – Peneliti berhasil mengidentifikasi spesies burung baru di Pulau Babar, sebuah pulau terpencil di Kepulauan Maluku, Laut Banda. Burung ini akhirnya diakui sebagai spesies baru setelah para ahli menemukan bahwa kicauan khasnya sangat berbeda dengan kerabat terdekatnya.
Melansir dari nationalgeographic.grid.id, spesies baru ini secara resmi diberi nama ilmiah Rhipidura laguceria atau Burung Kipasan Ceria. Selama lebih dari 120 tahun, burung ini kerap dianggap sebagai spesies yang sama dengan burung kipasan ekor kayu-manis (Rhipidura fuscorufa) yang pertama kali ditemukan di Kepulauan Tanimbar. Kesalahan identifikasi ini terjadi karena penampilan fisik keduanya sangat identik. Saat itu, para peneliti yang mengumpulkan spesimen dari Pulau Babar berjarak 135 kilometer di sebelah barat Tanimbar menyimpulkan bahwa burung tersebut adalah spesies yang sama akibat kemiripan visual yang kuat.
Namun, titik terang mulai muncul bertahun-tahun kemudian. Dilansir dari nusabanuatv.com, seorang ahli bernama Eaton pertama kali mencatat adanya perbedaan vokal antara populasi burung di Tanimbar dan Babar. Untuk menyelidiki hal ini, tim peneliti memeriksa 19 spesimen museum dari American Museum of Natural History di New York dan Natural History Museum di Tring, Inggris. Mereka juga menganalisis 18 rekaman suara dari kedua kelompok pulau tersebut.
Hasil analisis menunjukkan perbedaan kicauan yang sangat jelas antara kedua burung tersebut. Burung dari Kepulauan Babar memiliki rangkaian siulan tunggal yang nadanya terus meningkat hingga akhir. Sebaliknya, nyanyian burung dari Tanimbar mengandung lebih banyak nada dengan durasi dan jeda antar-nada yang jauh lebih singkat.
Peneliti kemudian melakukan uji perilaku sebanyak 132 kali dengan memutar rekaman suara di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar selama beberapa tahun. Hasil pengujian menunjukkan bahwa burung dari Babar hanya merespons kicauan spesiesnya sendiri dan mengabaikan suara burung Tanimbar. Perilaku serupa juga ditunjukkan oleh burung Tanimbar yang hanya merespons suara dari kawanannya. Temuan ini membuktikan adanya penghalang reproduksi alami sebelum perkawinan terjadi, yang cukup kuat untuk memisahkan keduanya sebagai spesies berbeda. Atas dasar ini, burung dari Kepulauan Babar resmi dideskripsikan sebagai spesies baru dengan nama Rhipidura laguceria atau Burung Kipasan Ceria.
Terkait status kelestariannya, publikasi peneliti di BioOne Digital Library yang berjudul “A new and cryptic fantail species from the Babar Islands, Maluku Province, Indonesia”, menyatakan bahwa status konservasi kedua burung tersebut adalah Risiko Rendah (Least Concern). Walaupun pada awalnya sempat muncul kekhawatiran bahwa burung ini masuk dalam kategori terancam punah berdasarkan Kriteria B1 dan B2 Daftar Merah IUCN akibat wilayah jelajahnya yang sempit, penelitian lanjutan menemukan fakta lain. Spesies ini ternyata memiliki toleransi yang tinggi terhadap degradasi habitat. Alih-alih tinggal di hutan berkanopi tertutup, burung ini justru lebih menyukai habitat yang telah dimodifikasi oleh manusia dan sering ditemukan hidup berdampingan di tepi hutan, lahan terbuka, serta padang rumput. Oleh karena itu, burung ini tidak memenuhi kriteria terancam punah dan dilabeli sebagai spesies dengan status Least Concern.
Reporter: RM 5
![]()

