BIOma – Penelitian terbaru mengembangkan teknologi rekayasa RNA yang berpotensi membantu sistem imun mengenali dan melawan sel kanker prostat. Teknologi tersebut dirancang untuk mengembalikan ekspresi Major Histocompatibility Complex Class I (MHC-I), molekul yang berperan penting dalam membantu sel imun mengenali sel kanker.
Kanker prostat dikenal sebagai salah satu jenis tumor yang relatif sulit merespons terapi imun karena memiliki karakteristik immune-cold, yaitu kondisi ketika jumlah dan aktivitas sel imun di sekitar tumor relatif rendah. Salah satu mekanisme yang digunakan sel kanker untuk menghindari sistem imun adalah menurunkan ekspresi Major Histocompatibility Complex Class I (MHC-I), molekul yang berperan dalam menyajikan potongan protein kepada sel imun. Kondisi tersebut membuat sel kanker lebih sulit dikenali oleh sel T CD8.
Menanggapi permasalahan tersebut, Huang et al., (2026) mengembangkan sebuah platform rekayasa RNA bernama 3′UTR CRISPR/dCas13 Engineering System (3′UTRCES). Teknologi ini dirancang untuk memanipulasi bagian tertentu dari mRNA, khususnya proses alternative polyadenylation (APA), yang berkaitan dengan perubahan panjang bagian 3′UTR pada mRNA. Peneliti menemukan bahwa pemendekan 3′UTR pada gen SPSB1 berperan dalam peningkatan degradasi MHC-I pada sel kanker prostat.
Sistem 3′UTRCES yang dikirim menggunakan lipid nanoparticle (LNP) digunakan untuk membalikkan perubahan pada 3′UTR SPSB1. Pendekatan ini berhasil meningkatkan kembali ekspresi MHC-I pada model kanker prostat. Peningkatan MHC-I kemudian berkaitan dengan meningkatnya infiltrasi dan aktivitas sitotoksik sel T CD8 di dalam tumor.
Hasil penelitian Huang et al., (2026) juga menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat meningkatkan sensitivitas tumor terhadap immune checkpoint therapy (ICT) pada model tikus. Dengan meningkatnya ekspresi MHC-I, sel kanker menjadi lebih mudah dikenali oleh sistem imun sehingga respons sel T CD8 terhadap tumor menjadi lebih kuat.
Rekayasa RNA dapat menjadi salah satu pendekatan potensial untuk mengatasi mekanisme penghindaran sistem imun pada kanker prostat. Namun, penelitian ini masih berada pada tahap eksperimental dan hasil yang diperoleh terutama berasal dari model penelitian, sehingga belum dapat dianggap sebagai terapi yang siap digunakan pada pasien.
Reporter: Alifa Zakiah Syam
![]()

