BIOma – Aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom masih menjadi ancaman bagi ekosistem laut Indonesia, khususnya di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Ledakan bom ikan tidak hanya mengancam populasi ikan, tetapi juga merusak terumbu karang yang menjadi habitat berbagai organisme laut.
Diberitakan dari cnbcindonesia.com, peneliti menggunakan mikrofon bawah laut dan teknologi machine learning untuk mendeteksi suara ledakan bom ikan. Dari sekitar 3.650 jam rekaman, ditemukan 3.570 ledakan yang diperkirakan setara dengan sekitar 8.500 ledakan dalam satu tahun. Temuan tersebut menunjukkan rata-rata satu ledakan terjadi setiap 62 menit.
Menurut m.kumparan.com, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation menggunakan pemantauan akustik pasif yang dibantu machine learning. Metode tersebut memungkinkan suara ledakan dikenali dari rekaman bawah laut sehingga aktivitas blast fishing dapat dipantau dalam wilayah yang sulit diawasi secara langsung.
Dilansir dari titikterang.co.id, sistem kecerdasan buatan yang digunakan dalam penelitian tersebut bernama BombDetect. Sistem ini memverifikasi 3.567 ledakan dari sekitar 3.700 jam rekaman selama 16 bulan dan memperkirakan sekitar 8.446 ledakan terjadi dalam satu tahun. Timothy A. C. Lamont, salah satu peneliti studi tersebut, menilai temuan ini mengkhawatirkan.
“Ini mengerikan karena bom ikan masih begitu marak dan menyebabkan banyak kerusakan,” ujarnya.
Ledakan bom ikan menghasilkan gelombang kejut yang dapat membunuh ikan sekaligus menghancurkan habitat bawah laut. Dilansir dari inet.detik.com, terumbu karang menjadi salah satu ekosistem yang paling terdampak. Padahal, meskipun mencakup kurang dari satu persen dasar laut, terumbu karang menjadi habitat bagi lebih dari 25 persen spesies laut.
Dampak tersebut juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Diberitakan dari cnbcindonesia.com, ahli biologi kelautan Ben Williams dari University College London dan Institute of Zoology menyebutkan bahwa populasi ikan dapat membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk pulih setelah terdampak blast fishing. Kerusakan ekosistem juga dapat memengaruhi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya perikanan.
Upaya pemulihan terumbu karang di Kepulauan Spermonde telah dilakukan melalui program restorasi. Dilansir dari detikInet, salah satu metode yang digunakan adalah struktur baja berbentuk bintang atau reef stars untuk membantu pemulihan karang. Di lokasi restorasi, tutupan karang dilaporkan dapat meningkat dari kurang dari lima persen menjadi lebih dari 80% dalam beberapa tahun.
Restorasi dapat membantu memulihkan terumbu karang yang telah rusak, tetapi pencegahan tetap menjadi langkah utama. Pemanfaatan teknologi seperti BombDetect, pengawasan terhadap aktivitas pengeboman, serta penyediaan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat pesisir diperlukan untuk mengurangi kerusakan dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut Spermonde.
Reporter: Vika Putri
![]()

