BIOma – Baru-baru ini, para peneliti dan pemandu lapangan kembali menemukan salah satu bunga paling langka di dunia, Rafflesia hasseltii, yang mekar sempurna di kawasan Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Temuan ini menjadi sorotan besar karena mekarnya bunga raksasa tersebut terjadi setelah 13 tahun penantian.
Rafflesia hasseltii selama ini dikenal sebagai salah satu spesies bunga parasit yang paling sulit ditemukan mekar di alam. Bunga ini hidup bergantung pada tumbuhan inang dari genus Tetrastigma, serta memiliki siklus hidup yang pendek dan tidak terprediksi. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya mendokumentasikan kuncup atau individu yang tidak berkembang, sehingga momen mekar lengkap menjadi sangat berharga.
Menurut laporan yang dikutip dari BRIN, para peneliti menggambarkan momen tersebut sebagai pengalaman emosional. Dalam video yang diunggah akun Instagram @illustratingbotanist, terlihat seorang pemandu tengah menangis saat menemukan bunga tersebut lantaran sudah mencari Rafflesia hasseltii selama 13 tahun.
“Selama 13 tahun. Saya sangat beruntung,” ungkap Septian Andiriki dalam video tersebut.
Septian Andiriki menemukan bunga tersebut bersama Deputy Director and Head of Science of the University of Oxford Botanic Garden and Arboretum, Dr. Chris Thorogood. Ia bersama tim berjalan siang dan malam melalui hutan hujan Sumatera untuk menemukan Rafflesia hasseltii.
Septian Andiriki, pemandu lokal yang terlibat dalam ekspedisi, bahkan meneteskan air mata ketika pertama kali melihat bunga itu mekar penuh dan menandai keberhasilan pencarian panjang yang dilakukan sejak 2012.
Rafflesia hasseltii dikenal dengan ciri khasnya yang berbeda dari spesies Rafflesia lainnya. Bunga ini memiliki kelopak merah gelap dengan bercak putih jelas, sehingga dijuluki bunga merah-putih, diameter yang dapat mencapai 60–70 cm, struktur bunga berdaging tebal dengan aroma khas yang menarik serangga penyerbuk, siklus mekar yang sangat singkat, biasanya hanya 5–7 hari sebelum akhirnya membusuk.
Peneliti menjelaskan bahwa Rafflesia hasseltii memiliki keragaman fenotip antar lokasi yang sebelumnya tidak terdokumentasi dengan baik, termasuk variasi ukuran disk, intensitas warna, dan pola bercak. Temuan ini membuka peluang kajian taksonomi lebih mendalam di masa depan.
Peneliti juga membandingkan kondisi individu di Sijunjung dengan populasi di lokasi lain, seperti di Bengkulu dan Kerinci, untuk memastikan tidak adanya persilangan karakter atau salah identifikasi. Hasil tinjauan morfologi memperkuat bahwa individu yang ditemukan merupakan Rafflesia hasseltii murni, bukan variasi atau subspesies lain.
Salah satu temuan penting dari investigasi ini adalah bahwa populasi Rafflesia hasseltii di kawasan tersebut berada dalam kondisi sangat rentan. Ancaman yang ditemukan, meliputi degradasi hutan akibat aktivitas manusia, berkurangnya tumbuhan inang yang menjadi satu-satunya tempat hidup bunga ini, serta gangguan aktivitas wisata liar yang berpotensi merusak kuncup yang masih muda.
Peneliti dari BRIN menyatakan bahwa keberhasilan menemukan bunga mekar bukan hanya pencapaian ilmiah, tetapi juga alarm penting untuk upaya konservasi. Jika habitat terus tertekan, siklus hidup bunga ini bisa semakin jarang diamati atau bahkan terancam hilang dari alam.
Rafflesia hasseltii tumbuh di hutan hujan tropis Sumatera dengan kondisi tanah lembab, kanopi rapat, serta keberadaan inang yang mencukupi. Namun, tidak seperti spesies burung atau mamalia, Rafflesia sangat bergantung pada keberadaan Tetrastigma, sehingga sekecil apa pun perubahan ekologi dapat berdampak langsung pada kelangsungan hidupnya.
Para peneliti mendeskripsikan penemuan ini sebagai bukti bahwa Sumatera masih menyimpan misteri biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap. Rafflesia hasseltii yang mekar setelah 13 tahun menunjukkan betapa kompleks dan uniknya dinamika flora Indonesia.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia sangat kaya, tetapi juga sangat rapuh,” ungkap salah satu peneliti BRIN dalam laporan lapangan.
Penelitian lanjutan dianggap penting agar berbagai populasi Rafflesia, termasuk R. hasseltii, dapat dipetakan, dilindungi, dan dipahami lebih baik dalam konteks perubahan ekologi dan ancaman kerusakan habitat.
Reporter: Resky Aulia R
![]()

