BIOma – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar resmi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan hingga 1 Maret 2026 mendatang. Peningkatan curah hujan signifikan ini diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Februari.
Melansir dari Tribunnews, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan.
Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini sangat mendukung pertumbuhan awan hujan yang masif. Hal ini disebabkan oleh aktivitas beberapa fenomena atmosfer secara bersamaan sebagaimana dikutip dari Detik.com.
“Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby, serta adanya konvergensi angin di wilayah Sulawesi Selatan memperkuat pertumbuhan awan hujan. Potensi hujan intensitas sedang hingga sangat lebat diprediksi akan mengguyur terutama di wilayah pesisir barat dan selatan,” jelasnya.
Berdasarkan pemetaan BMKG, sejumlah daerah masuk dalam daftar siaga potensi terdampak, di antaranya wilayah Pesisir Barat: Kota Makassar, Kabupaten Maros, Pangkep, dan Barru. Wilayah Selatan: Kabupaten Gowa, Takalar, hingga Kepulauan Selayar.
Tak hanya hujan deras, angin kencang juga diprakirakan menghantam wilayah Sulsel bagian barat dan selatan. Masyarakat pesisir pun diminta mewaspadai gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter yang berpotensi terjadi di Perairan Pinrang, Barru, Makassar, Pangkep, Bulukumba, Jeneponto, hingga Kepulauan Takabonerate.
Merespons ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan segera mengambil langkah mitigasi dengan menyiagakan posko siaga bencana. Melansir Rakyat Sulsel, Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, menegaskan bahwa seluruh personel dan armada telah dalam posisi siap siaga.
“Kami sudah menyiagakan tim dan perlengkapan di beberapa wilayah rawan sebagai langkah antisipasi jika terjadi banjir atau longsor,” pungkasnya.
Selain pengawasan lapangan, BMKG juga memetakan potensi dampak bencana secara digital melalui sistem InaFLEWS (Indonesia Flood Early Warning System) untuk memberikan peringatan yang lebih presisi.
Dengan adanya peringatan ini, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, memastikan saluran drainase lancar, dan menghindari berteduh di bawah pohon tua saat angin kencang. Pastikan Anda terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG untuk meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem.
Reporter: Maisya Audia
![]()

