Mata Hibrida: Menguak Rahasia Penglihatan Ikan di Zona Senja

Potret Adaptasi: Mata Hibrida Ikan Laut Dalam (Doc. Int)

BIOma – Sebuah penemuan revolusioner dari kegelapan samudra baru saja mengguncang dasar biologi visual. Tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi sistem penglihatan unik pada larva ikan laut dalam, yang mematahkan teori klasik vertebrata yang telah diyakini selama lebih dari satu abad.

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances edisi Februari 2026, para ilmuwan menemukan sel fotoreseptor tipe baru yang bersifat hibrida. Sel ini ditemukan pada larva beberapa spesies ikan laut dalam, seperti Maurolicus muelleri (ikan pearlside), Vinciguerria mabahiss, dan Benthosema pterotum.

Selama ini, ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa mata vertebrata terbagi kaku: sel batang untuk kegelapan dan sel kerucut untuk cahaya terang. Namun, alam selalu punya cara unik untuk beradaptasi. Larva ikan laut dalam ini justru menggabungkan keduanya menjadi sistem hibrida agar tetap bisa melihat di zona senja yang minim cahaya.

​Lalu, bagaimana sistem hibrida ini bekerja? Dikutip melalui laporan ilmiah di Phys.org, Dr. Fabio Cortesi dari University of Queensland, salah satu penulis utama dalam penelitian tersebut menjelaskan, temuan ini mengungkapkan sel fotoreseptor adalah penggabungan yang sangat efisien, tipe sel baru ini mengoptimalkan penglihatan dalam kondisi cahaya yang sangat redup atau remang-remang.

“Sel fotoreseptor ini menggabungkan mesin molekuler dan gen dari sel kerucut dengan bentuk fisik sel batang, perpaduan ini ibarat mengambil bagian-bagian terbaik dari sistem cahaya terang dan gelap, menjadikannya sebuah senjata visual baru yang sangat optimal di lingkungan minim cahaya”, jelasnya.

Penjelasan tersebut diperkuat oleh Dr. Lily Fogg, peneliti lain yang terlibat dalam studi ini. Secara morfologi, sel-sel ini memang terlihat persis seperti sel batang panjang dan silindris sehingga dioptimalkan untuk menangkap sebanyak mungkin foton atau partikel cahaya. Namun secara fungsional, sel ini menggunakan mekanisme sel kerucut dengan mengaktifkan gen yang biasanya hanya beroperasi pada kondisi terang.

Penelitian ini membutuhkan sampel retina larva ikan yang harus ditangkap dari kedalaman 20 hingga 200 meter di perairan Laut Merah. Dr. Fogg menyoroti tingkat kesulitannya, ukuran larva tersebut hanya sekitar 0,5 sentimeter dengan ukuran bola mata yang kurang dari satu milimeter. Tim peneliti dengan tekun memahami bagaimana sistem penglihatan ikan berkembang di fase awal kehidupannya dekat permukaan laut, sebelum mereka bermigrasi turun ke habitat laut dalam saat dewasa.

​Dirangkum dalam laporan Phys.org dan MSN News ini, penemuan ini memberikan bukti molekuler, morfologis, dan fungsional tentang evolusi jalur perkembangan alternatif bagi penglihatan. Para peneliti berharap pemahaman tentang bagaimana ikan ini membangun sel visual hibrida di lingkungan bertekanan tinggi di laut dalam, dapat membuka jalur biologis baru yang relevan bagi dunia medis.

Reporter: Nurul Qalbi Shabirah

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *