BIOma – Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengalami penurunan pada awal Oktober 2026. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang terbawa pergerakan angin ke wilayah Sulawesi.
Dikutip dari MetroTVNews, kondisi udara Makassar menjadi perhatian setelah adanya dugaan paparan asap dari wilayah lain. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan hingga di luar daerah asal kebakaran.
CNNIndonesia.com pada (04/10) turut memberitakan penurunan kualitas udara di Makassar yang menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi tersebut mendorong perlunya pengamatan atmosfer dan pemantauan kualitas udara untuk mengetahui kondisi serta sumber pencemaran secara lebih akurat.
Hal serupa diberitakan RRI.co.id pada (05/10), pergerakan asap dari Kalimantan menuju Sulawesi menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena kondisi meteorologis, termasuk arah dan pola angin, memungkinkan asap terbawa hingga wilayah lain.
Potensi pergerakan asap lintas wilayah juga diberitakan Informasi.com. Asap karhutla dari Kalimantan dan Papua disebut berpotensi terbawa angin menuju sejumlah wilayah di Sulawesi Utara. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat meluas mengikuti kondisi atmosfer dan tidak terbatas pada wilayah terjadinya kebakaran.
Penurunan kualitas udara menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Paparan polutan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Masyarakat pun diimbau untuk mengikuti perkembangan kualitas udara dari instansi resmi dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi udara memburuk.
Penanganan persoalan tersebut tidak hanya bergantung pada upaya masyarakat dalam melindungi diri dari paparan polutan. Pemerintah dan instansi terkait perlu memperkuat pemantauan kualitas udara, menyampaikan informasi secara terbuka, serta meningkatkan koordinasi lintas wilayah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Upaya pencegahan kebakaran juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dampak asap tidak semakin meluas.
Bagi masyarakat Makassar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lainnya. Penanganan karhutla membutuhkan pengawasan yang konsisten dan kerja sama berbagai pihak agar dampaknya terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.
Reporter: Alifa Zakiah Syam
BIOma – Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengalami penurunan pada awal Oktober 2026. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang terbawa pergerakan angin ke wilayah Sulawesi.
Dikutip dari MetroTVNews, kondisi udara Makassar menjadi perhatian setelah adanya dugaan paparan asap dari wilayah lain. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan hingga di luar daerah asal kebakaran.
CNNIndonesia.com pada (04/10) turut memberitakan penurunan kualitas udara di Makassar yang menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi tersebut mendorong perlunya pengamatan atmosfer dan pemantauan kualitas udara untuk mengetahui kondisi serta sumber pencemaran secara lebih akurat.
Hal serupa diberitakan RRI.co.id pada (05/10), pergerakan asap dari Kalimantan menuju Sulawesi menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena kondisi meteorologis, termasuk arah dan pola angin, memungkinkan asap terbawa hingga wilayah lain.
Potensi pergerakan asap lintas wilayah juga diberitakan Informasi.com. Asap karhutla dari Kalimantan dan Papua disebut berpotensi terbawa angin menuju sejumlah wilayah di Sulawesi Utara. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat meluas mengikuti kondisi atmosfer dan tidak terbatas pada wilayah terjadinya kebakaran.
Penurunan kualitas udara menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Paparan polutan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Masyarakat pun diimbau untuk mengikuti perkembangan kualitas udara dari instansi resmi dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi udara memburuk.
Penanganan persoalan tersebut tidak hanya bergantung pada upaya masyarakat dalam melindungi diri dari paparan polutan. Pemerintah dan instansi terkait perlu memperkuat pemantauan kualitas udara, menyampaikan informasi secara terbuka, serta meningkatkan koordinasi lintas wilayah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Upaya pencegahan kebakaran juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dampak asap tidak semakin meluas.
Bagi masyarakat Makassar, kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lainnya. Penanganan karhutla membutuhkan pengawasan yang konsisten dan kerja sama berbagai pihak agar dampaknya terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.
Reporter: Alifa Zakiah Syam
![]()

