BIOma – Keanekaragaman Indonesia tidak hanya mencakup flora dan fauna berukuran besar, tetapi juga serangga seperti kupu-kupu yang memiliki nilai ekologis tinggi. Salah satu spesies yang menarik perhatian adalah kupu-kupu bidadari atau sayap renda ungu (Cethosia myrina), yaitu kupu-kupu endemik Sulawesi yang dikenal karena keindahan pola sayapnya. Spesies ini termasuk dalam famili Nymphalidae dan memiliki rentang sayap sekitar 75 mm, menjadikannya salah satu kupu-kupu yang cukup mencolok di habitat aslinya.
Spesies Cethosia myrina dikategorikan sebagai salah satu spesies langka yang dilindungi di Indonesia mengingat wilayah persebarannya yang terbatas dan sifatnya yang endemik. Perlindungan hukum terhadap kupu-kupu ini didasarkan pada dua regulasi utama, yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa sebagaimana dilansir dari merdeka.com, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 Tahun 2018 sebagaimana dilansir dari digilib.unila.ac.id.
Keanekaragaman spesies ini terlihat dari keberadaan beberapa subspesiesnya yang tersebar di berbagai wilayah geografis Sulawesi. Dilansir dari library.binus.ac.id terdapat beberapa subspesies yang berhasil teridentifikasi, meliputi Cethosia myrina myrina di Sulawesi Utara, Cethosia myrina sarnada di Sulawesi Selatan, Cethosia myrina melancholia di Sulawesi Timur, dan Cethosia myrina vanbemmeleni di Pulau Buton. Diferensiasi subspesies ini menunjukkan adanya proses adaptasi evolusioner yang kuat terhadap kondisi lingkungan yang berbeda di setiap wilayah tersebut.
Kehidupan kupu-kupu bidadari ini sangat dipengaruhi oleh dinamika lingkungan sekitarnya, baik dari faktor biotik maupun abiotik. Berdasarkan hasil penelitian yang dirilis melalui digilib.unila.ac.id di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, komponen biotik yang sangat memengaruhi keberadaan mereka meliputi ketersediaan tumbuhan inang seperti Adenia heterophylla serta tumbuhan penghasil nektar sebagai sumber nutrisi utama. Komponen abiotik yang turut menentukan kenyamanan habitatnya mencakup fluktuasi suhu, kelembapan udara, ketinggian tempat dari permukaan laut, serta persentase tutupan kanopi.
Data lapangan dari sumber penelitian yang sama di digilib.unila.ac.id mencatat sebanyak 48 individu Cethosia myrina berhasil ditemukan, dengan tingkat kelimpahan tertinggi berada di wilayah Resor Bantimurung dan Resor Pattunuang. Karakteristik habitat yang cenderung terbuka dengan kondisi lingkungan mikroklimat yang sesuai diketahui jauh lebih mendukung keberadaan dan aktivitas populasi kupu-kupu ini. Fenomena tersebut membuktikan bahwa keseimbangan ekosistem memegang peranan yang sangat vital dalam menjaga kelangsungan hidup populasi satwa endemik.
Keberadaan kupu-kupu bidadari menjadi bukti nyata dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang unik sekaligus rentan terhadap kepunahan. Upaya konservasi yang konkret seperti perlindungan habitat alami dari fragmentasi lahan serta pembatasan penangkapan liar secara ilegal sangat penting untuk segera diimplementasikan. Melalui langkah preventif ini, spesies Cethosia myrina diharapkan dapat tetap lestari di alam, sehingga dapat terus menjadi objek penelitian yang berharga bagi akademika sekaligus menjadi kebanggaan bagi keanekaragaman hayati Indonesia.
Reporter: RM 2
![]()

