BIOma – Pembangunan infrastruktur yang masif di Ibu Kota Nusantara (IKN) terbukti tidak serta-merta memutus rantai ekologis di kawasan tersebut. Indikator pemulihan lingkungan yang signifikan kini mulai terlihat nyata di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Melansir dari situs resmi Otorita IKN (ikn.go.id), pemantauan terbaru mencatat bahwa satwa liar dilindungi, seperti beruang madu (Helarctos malayanus), lutung merah (Presbytis rubicunda), dan rusa sambar (Rusa unicolor), semakin sering dijumpai merambah kembali ke dalam kawasan hutan IKN.
Pemberitaan Kompas.com, kembalinya kawanan satwa liar ini menjadi sinyalemen positif bahwa konsep koridor hijau yang dirancang sejak awal mulai menunjukkan fungsinya. Sebelumnya, satwa-satwa tersebut sempat menyingkir dari habitatnya akibat aktivitas pembukaan lahan (land clearing). Kini, transformasi lahan dari area bekas konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang bersifat monokultur menjadi struktur hutan hujan tropis yang heterogen, dinilai sebagai faktor kunci yang memicu kembalinya fauna endemik Kalimantan tersebut.
Upaya reboisasi secara masif untuk menunjang ketersediaan pakan satwa terus diperluas, salah satunya melalui episentrum restorasi di Wanagama IKN. Kawasan hutan konservasi seluas 621 hektare yang berada di dalam KIPP ini diproyeksikan sebagai pusat riset kehutanan sekaligus laboratorium alam terpadu. Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Jumat (05/06), Otorita IKN bersama para akademisi menggelar aksi penanaman pohon kolektif yang bertajuk “Rooting for Future”.
Fokus utama dari pembenahan vegetasi ini adalah mempercepat pembentukan tajuk hutan yang berlapis (stratifikasi tajuk). Pendekatan ekologis ini sangat krusial guna menyediakan ruang pergerakan yang aman bagi satwa arboreal (satwa yang beraktivitas di pepohonan), sekaligus mencegah terjadinya isolasi genetik pada spesies lokal akibat fragmentasi habitat. Melalui tajuk hutan yang rapat dan saling terhubung, satwa dapat bergerak bebas mencari pakan tanpa harus turun ke area proyek yang berisiko bagi keselamatan mereka.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa orientasi pembangunan Nusantara tidak hanya terpaku pada penyediaan infrastruktur fisik. Lebih dari itu, fokus juga diarahkan pada pemulihan tatanan kehidupan alamiah agar flora dan fauna dapat berdampingan secara harmonis dengan aktivitas manusia. Menurutnya, kehadiran kembali mamalia seperti beruang madu dan lutung merah membuktikan bahwa ekosistem binaan tersebut mulai bernapas. Ia pun mengimbau agar kesadaran pelestarian ekologi ini dapat menjadi gaya hidup utama bagi masyarakat yang kelak menetap di Nusantara.
Berdasarkan laporan dari Seputar Nusantara, uji coba pemulihan ekosistem berskala raksasa ini diwujudkan melalui skema sinergi tiga sektor utama: regulator, akademisi, dan pihak swasta. Di lini regulasi, Kementerian Kehutanan berfokus pada penyelarasan tata ruang aliran sungai IKN guna menjamin stabilitas hidrasi bagi satwa terestrial (hewan darat). Sementara itu, dari kacamata akademis, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengawal ketat standardisasi pemilihan bibit pohon endemik, dengan mengutamakan jenis flora yang memiliki daya dukung pakan (carrying capacity) tinggi bagi kelangsungan hidup satwa liar.
Guna memastikan keberlanjutan restorasi tanpa membebani kas negara, sektor swasta melalui PT Pamapersada Nusantara turut berkontribusi lewat kucuran dana Corporate Social Responsibility (CSR) jangka panjang. Skema pendanaan ini diintegrasikan dengan konsep Eco Edu Forest, yang secara apik memadukan fungsi proteksi keanekaragaman hayati dengan ruang edukasi publik. Melalui keterlibatan aktif dari berbagai pihak, kawasan IKN diharapkan mampu bertransformasi menjadi laboratorium ekologi nyata yang mewariskan manfaat lingkungan secara berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Reporter: Nur Dini Armiati Nur
![]()

