BIOma – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 13.500 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah yang terdampak karhutla sejak Juli 2026.
Informasi dari kompas.id menyatakan bahwa data tersebut disampaikan Kemenkes sebagai gambaran dampak kesehatan yang muncul akibat bencana asap karhutla. Kasus ISPA dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah yang terdampak asap, terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Dilansir dari rri.co.id., data kemenkes menyatakan bahwa dari jumlah kasus yang tercatat secara kumulatif tersebut, masih terdapat ribuan masyarakat yang mengalami ISPA. Hingga 27 Agustus 2026, tercatat 4.082 orang masih mengalami ISPA di wilayah terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan dampak asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat masih berlangsung.
Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan kualitas udara menurun. Kondisi ini menjadi perhatian karena masyarakat yang terus-menerus terpapar udara yang tercemar asap berisiko mengalami gangguan pada sistem pernapasan. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi paparan asap.
Dikutip dariĀ antaranews.com kemenkes juga melakukan berbagai langkah untuk mengurangi dampak kesehatan akibat karhutla. Salah satunya melalui pemantauan kasus ISPA serta dukungan perlindungan bagi masyarakat yang terdampak asap.
Tingginya kasus ISPA akibat karhutla menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Masyarakat di wilayah terdampak juga diimbau untuk memperhatikan kondisi kualitas udara dan menggunakan perlindungan yang sesuai ketika kondisi udara memburuk. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam mencegah serta menangani karhutla, dampak kesehatan akibat asap diharapkan dapat diminimalkan.
Reporter: Aulia Suci Rahmadhani
![]()

