Memahami Makna “September Hitam”, Momentum Mengenang Rentetan Pelanggaran HAM di Indonesia

Ilustrasi September Hitam (Doc. LPM BIOma)

BIOma – September hitam disebut sebagai peristiwa yang kelam. Peristiwa ini merujuk pada peringatan terhadap peristiwa kelam yang terjadi di sepanjang bulan September di Indonesia 54 tahun yang lalu, seperti peristiwa politik dan sosial.

Kata “September Hitam” ini merujuk pada nama bulan saat peristiwa ini terjadi yakni bulan September dan kata “Hitam” merujuk pada suasana atau situasi yang kelam, dan berduka.

Dilansir dari situs ftmm.unair.ac.id, September Hitam merupakan momentum untuk mengenang pelanggaran HAM, mengingatkan kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat, tentang pentingnya stabilitas politik dan persatuan bangsa.

Dilansir dari laman kompas.com, ada beberapa rentetan peristiwa yang terjadi sehingga disebut sebagai September Hitam, yaitu:

1. Tragedi 65
Tragedi ini merupakan Gerakan 30 September (G30S), yang merupakan sekelompok perwira militer yang berupaya untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno, memulai aksinya dengan menculik dan membunuh enam jenderal TNI.

2. Peristiwa Tanjung Priok
Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada 13 September 1984, ketika pasukan keamanan membubarkan pertemuan yang dihadiri oleh kelompok muslim yang sedang melaksanakan ibadah Shalat Jumat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

3. Tragedi Semanggi II
Merupakan tragedi pertempuran sengit antara demonstran dan aparat keamanan yang meletus di sekitar Jembatan Semanggi. Ini mengakibatkan sejumlah kematian dan cedera serius di antara para peserta demonstrasi.

4. Pembunuhan Munir
Munir Said Thalib adalah seorang aktivis HAM yang dibunuh di dalam pesawat pada 7 September 2004. Munir diracuni dalam perjalanannya dari Jakarta menuju Amsterdam. Ia meninggal akibat keracunan arsenik dalam sebuah penerbangan. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa arsenik itu disuntikkan ke minumannya di dalam pesawat.

5. Aksi Demonstrasi Reformasi Dikorupsi
September 2019 menjadi tahun yang kelam bagi upaya penegakan demokrasi di Indonesia. Lima tahun silam, gedung DPR RI menjadi saksi bisu runtuhnya demokrasi dengan adanya aksi demonstrasi yang bertajuk #ReformasiDikorupsi. Aksi ini digadang-gadang merupakan aksi yang terbesar setelah Gerakan Mahasiswa tahun 1998.

Kumpulan peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya mengenang sejarah untuk memahami dampak jangka panjangnya dan mendorong upaya untuk memperbaiki keadaan, serta memperkuat komitmen terhadap hak asasi manusia dan persatuan nasional.

Reporter : Irhamna Mawarni & Riski Ramadhani Adnan

Ilustrator : Khusnul Khatimah

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *