.
BIOma — Pernahkah kita mendadak merasa bulu kuduk berdiri saat mendengar lagu menyentuh, menyaksikan adegan menyedihkan, atau tiba-tiba disergap udara dingin di pagi hari? Sensasi itu muncul begitu cepat, seperti tubuh bereaksi tanpa perintah. Bagi sebagian orang, merinding hanyalah pengalaman sekilas. Namun di baliknya, tersimpan mekanisme tubuh yang kompleks, bahkan menjadi salah satu peninggalan berharga dari perjalanan panjang evolusi manusia.
Secara medis, fenomena ini disebut piloereksi atau cutis anserina. Ini adalah proses biologis ketika otot kecil bernama arrector pili, yang menempel pada folikel rambut, berkontraksi, dan menyebabkan rambut berdiri tegak. Efeknya terlihat seperti kulit bergelombang menyerupai kulit angsa.
Sensasi merinding termasuk dalam reaksi otomatis sistem saraf simpatik, bagian dari sistem saraf otonom yang bekerja di luar kesadaran manusia. Saat tubuh menghadapi rangsangan seperti hawa dingin, rasa takut, atau lonjakan emosi yang intens, otak segera mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk bereaksi cepat.
Mengutip artikel dari Harvard Medical School, para ahli menjelaskan bahwa sistem saraf simpatik bertugas mempersiapkan tubuh menghadapi stres atau ancaman, dan salah satu bentuk reaksinya adalah merinding. Reaksi ini mirip dengan respons “fight or flight”, yang menjadi mekanisme pertahanan utama manusia dan hewan saat merasa terancam.
Meskipun terlihat tidak lagi berguna bagi manusia modern, fungsi merinding dulunya sangat penting bagi hewan-hewan berbulu. Saat suhu dingin menyerang, kontraksi otot ini membantu mempertebal bulu dan menahan panas tubuh. Dalam situasi bahaya, berdirinya bulu juga menciptakan ilusi tubuh yang lebih besar, seperti yang terjadi pada kucing atau landak yang merasa terancam.
Menurut publikasi dalam Scientific American, manusia mewarisi kemampuan ini dari leluhur mamalia purba. Hanya saja, karena manusia kini memiliki rambut tubuh yang sangat tipis, manfaat merinding sebagai mekanisme perlindungan fisik hampir tak lagi signifikan. Namun, refleksnya masih tetap muncul sebagai bagian dari “memori biologis”.
Menariknya, tak semua sensasi merinding disebabkan oleh ketakutan atau suhu dingin. Banyak orang mengalami fenomena ini ketika mendengar musik yang menyentuh, menyaksikan pidato penuh semangat, atau saat melihat karya seni yang menggugah.
Fenomena ini dikenal dengan istilah frisson, yaitu sensasi menggelitik yang muncul akibat emosi estetis. Riset dari Frontiers in Psychology, menyebutkan bahwa frisson terjadi ketika terjadi benturan singkat antara otak rasional dan otak emosional, memicu pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang atau puas.
Meskipun tidak vital bagi pertahanan tubuh, melalui sensasi merinding, kita diingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional yang hidup di zaman modern, tetapi juga warisan dari masa silam yang terus hidup di balik kulit dan tulang manusia.
Reporter: RM6
![]()

