Tolak Krisis Energi, Aliansi Mahasiswa UNM Desak Solusi Konkret Pemerintah

Aksi Aliansi Mahasiswa UNM, Soroti Krisis Energi di Sulsel (Doc. LPM BIOma)

BIOma – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menggelar aksi demonstrasi di Jalan A.P. Pettarani, Makassar, dengan menyoroti persoalan krisis energi yang dinilai semakin meresahkan masyarakat. Aksi tersebut mengangkat grand issue yakni Solusi Krisis Energi, Rakyat Jadi Korban. Mereka menuntut pemerintah segera membenahi distribusi BBM bersubsidi, menindak dugaan mafia subsidi, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi di Sulawesi Selatan, pada Senin (14/09).

Mahasiswa menilai persoalan ketersediaan dan distribusi energi tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah terhadap distribusi sumber energi.

Menteri Sosial dan Politik BEM FMIPA UNM periode 2026-2027, Muh. Farhan Fatur Rahman, mengatakan kelangkaan BBM bersubsidi menjadi salah satu persoalan utama yang mendorong mahasiswa turun ke jalan. Menurutnya, kondisi tersebut telah menghambat berbagai aktivitas masyarakat, khususnya akibat antrean panjang di sejumlah SPBU.

“Kami mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh SPBU yang ada di Kota Makassar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dugaan praktik mafia subsidi yang dinilai masih terjadi di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Mahasiswa mendesak aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat, baik dalam skala kecil maupun besar.

Selain kelangkaan BBM, mahasiswa turut menyoroti pemadaman listrik bergilir yang sempat dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan berkurangnya debit air pada salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Padahal, Sulawesi Selatan memiliki sejumlah sumber pembangkit listrik lainnya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berada di Jeneponto. Mahasiswa mempertanyakan optimalisasi pembangkit tersebut dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

“Apakah Sulawesi Selatan hanya bergantung daripada PLTA? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab,” tuturnya.

Menurutnya, seluruh sumber daya dan fasilitas energi yang tersedia perlu dimanfaatkan secara optimal agar kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dan tidak menimbulkan keresahan yang berulang.

Sementara itu, Jenderal Lapangan, Fahrul Husain Abadi, menilai urgensi persoalan energi terletak pada dampaknya yang langsung dirasakan masyarakat. Kelangkaan BBM disebut telah menyebabkan antrean panjang dan penumpukan di berbagai daerah. Persoalan serupa juga terjadi pada LPG yang sempat mengalami kelangkaan.

“Kita sama-sama lihat, satu minggu terakhir masyarakat kesulitan mendapatkan akses BBM, belum lagi persoalan energi lainnya seperti pemadaman listrik dan kelangkaan gas LPG di berbagai daerah yang merupakan kebutuhan primer masyarakat juga menjadi keresahan bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pihak terkait, perlu segera mencari solusi atas persoalan energi yang terjadi di Sulawesi. Menurutnya, BBM dan LPG merupakan kebutuhan energi yang sangat penting bagi masyarakat sehingga ketersediaannya perlu dijamin.

Usai aksi, mahasiswa menyatakan akan menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah, PLN, dan Pertamina sebagai pihak yang berkaitan dengan penyediaan serta distribusi energi. Mereka menilai langkah yang dilakukan saat ini masih bersifat sementara dan belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

“Kami akan menunggu evaluasi serta solusi nyata dari pemangku kebijakan terkait, agar persoalan krisis energi bisa dibenahi dan diantisipasi dikemudian hari oleh pemerintah serta PLN dan Pertamina Regional Sulawesi sebagai perusahaan negara yang bertanggung jawab terhadap distribusi energi,” ujarnya.

Mahasiswa menilai solusi sementara belum cukup untuk menjawab persoalan yang terjadi. Mereka mendorong adanya sistem distribusi energi yang lebih terjamin agar kelangkaan BBM dan LPG serta gangguan pasokan listrik tidak kembali membebani masyarakat.

Mahasiswa berharap pemerintah segera merespons tuntutan yang disampaikan dan menyelesaikan persoalan distribusi energi, sehingga masyarakat dapat memperoleh BBM, LPG, dan listrik secara aman, mudah, dan merata.

Reporter: Nur Mala Sari

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *