BEM FMIPA UNM Selenggarakan Diskusi September Hitam, Tujuh Pimpinan LK Bersuara

Diskusi September Hitam di Pelataran Science Squere FMIPA UNM (Doc. LPM BIOma)

BIOma – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) menyelenggarakan diskusi September Hitam dengan mengangkat tema September Hitam: Merawat Ingatan, Membaca HAM, Menyuarakan Hari Ini, Jumat (18/09).

Kegiatan yang berlangsung di pelataran Science Square FMIPA UNM tersebut menghadirkan tujuh ketua umum lembaga mahasiswa di lingkungan FMIPA UNM sebagai pembicara. Diskusi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membahas berbagai peristiwa kelam yang terjadi pada bulan September serta keterkaitannya dengan persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) hingga kondisi hari ini.

Pembahasan diawali dengan pentingnya mahasiswa melihat kembali berbagai peristiwa sejarah secara kritis. Ketua Umum HMJ Geografi FMIPA UNM Periode 2025-2026, Nursyafaat Hamid, menekankan bahwa mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada pengetahuan mengenai suatu peristiwa, tetapi perlu mempertanyakan sebab dan konteks di baliknya.

“Sebagai mahasiswa, kita tidak boleh melihat momentum atau peristiwa yang terjadi hanya sebagai sejarah. Kita harus bertanya, kenapa pada saat itu ada kekerasan dan kenapa kekerasan itu terjadi,” ujarnya.

Pandangan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Ketua Umum HMJ Pendidikan IPA FMIPA UNM Periode 2025-2026, Dhiaul Hoq. Ia mengajak peserta untuk kembali mengingat berbagai tragedi yang terjadi pada bulan September sekaligus melihat persoalan perjuangan hak yang masih relevan hingga saat ini.

“Kita perlu mengingat kembali peristiwa-peristiwa atau tragedi yang terjadi pada bulan ini dan bagaimana kita memperjuangkan hak asasi manusia sebagai rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Ketua Umum HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2026-2027, Muh. Hidayat Situru, menguraikan tiga hal yang menurutnya menjadi bagian penting dalam tema diskusi, yakni merawat ingatan, membaca HAM, dan menyuarakan persoalan hari ini. Menurutnya, menyuarakan persoalan HAM tidak selalu harus dilakukan melalui demonstrasi, tetapi dapat dimulai melalui ruang diskusi.

“Menyuarakan hari ini bukan berarti kita harus melakukan demonstrasi, tetapi dapat kita suarakan melalui ruang diskusi dan bersama-sama membahas permasalahan yang terjadi,” tuturnya.

Hubungan antara ingatan sejarah dan pemahaman mengenai HAM diarahkan oleh Ketua Umum HMJ Statistika FMIPA UNM tahun 2026, Zaldy, yang menjelaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian dari HAM, tetapi kebebasan tersebut juga perlu disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak orang lain.

“Kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab untuk menghargai hak orang lain,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMJ Biologi FMIPA UNM Periode 2025-2026, Muh. Siddiq Utama, menyoroti bahwa mengingat sejarah tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang telah terjadi. Menurutnya, mahasiswa juga perlu melihat perubahan yang muncul setelah suatu peristiwa dan menjadikannya bahan refleksi terhadap kondisi sekarang.

“September hitam bukan hanya tentang mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga menggunakan ingatan tersebut untuk membaca kondisi hari ini,” ujarnya.

Gagasan mengenai melihat sejarah sebagai cerminan kondisi masa kini kemudian diperkuat oleh Ketua Umum HMJ Fisika FMIPA UNM Periode 2025-2026, Syahrang A.M, ia menekankan bahwa merawat ingatan memiliki kaitan dengan perjuangan HAM karena sebuah tragedi tidak berhenti ketika peristiwanya selesai, melainkan meninggalkan persoalan mengenai korban, keluarga, dan keadilan.

“Merawat ingatan adalah bagian dari perjuangan hak asasi manusia. Sebuah tragedi tidak akan terhenti ketika peristiwanya telah selesai,” ungkapnya.

Pada bagian akhir, Ketua Umum HMJ Kimia FMIPA UNM Periode 2026, Andi Adeha Ridwan, mengajak peserta untuk tidak hanya melihat persoalan HAM dari satu sudut pandang. Ia menilai ruang diskusi diperlukan agar berbagai perspektif dapat muncul dan mahasiswa tidak hanya mendengarkan pandangan yang sejalan dengan pemikirannya sendiri.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita melihat persoalan dari berbagai perspektif, bukan hanya dari satu pembicaraan saja,” tuturnya.

Rangkaian pemaparan ketujuh ketua umum tersebut menunjukkan bahwa tema yang menjadi topik diskusi dibahas melalui beberapa sudut pandang. Pembahasan tidak hanya berfokus pada peristiwa masa lalu, tetapi juga mengarah pada bagaimana mahasiswa memahami HAM dalam kehidupan sehari-hari, memberikan ruang terhadap perbedaan pendapat, serta menghubungkan ingatan sejarah dengan persoalan yang terjadi saat ini.

Reporter: Nurul Qalbi Shabirah

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *