Fenomena Blood Moon 3 Maret 2026: Langit Indonesia Siap Sambut Gerhana Bulan Total

Fenomena Gerhana Bulan Total (Doc. Int)

BIOma – Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) diprediksi akan terjadi pada Selasa, (03/03). Masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Sulawesi, berkesempatan menyaksikan momen langka ini secara langsung. Fenomena yang sering dijuluki sebagai Blood Moon ini terjadi ketika posisi Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak Gerhana Bulan Total diperkirakan berlangsung pukul 18.03 WIB. Fase totalitas akan berlangsung selama kurang lebih satu jam, sementara keseluruhan proses gerhana mulai dari fase penumbra hingga berakhir akan memakan waktu lebih dari lima jam sebagaimana yang dilansir pada Bmkg.go.id.

Dari sudut pandang saintifik, kemunculan warna kemerahan pada Bulan saat fase totalitas memiliki penjelasan yang menarik. Tim sains Universitas Negeri Surabaya s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id menyebutkan bahwa warna merah pada Bulan saat fase totalitas terjadi karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembiasan dan hamburan. Cahaya biru lebih banyak tersebar, sedangkan cahaya merah diteruskan dan mencapai permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak kemerahan. Fenomena ini tidak hanya menjadi peristiwa astronomi yang menarik untuk disaksikan, tetapi juga memiliki nilai ilmiah penting dalam mempelajari atmosfer dan sistem pergerakan benda langit.

Secara geografis, fenomena ini dapat diamati dari hampir seluruh pelosok Nusantara. Namun, terdapat sedikit perbedaan durasi pengamatan akibat zona waktu, wilayah Indonesia bagian barat akan menyaksikan Bulan memasuki fase totalitas lebih awal dibandingkan wilayah tengah dan timur. Tak hanya di Indonesia, fenomena Blood Moon ini juga dapat dipantau dari kawasan Asia Tenggara dan beberapa belahan dunia lainnya.

Peristiwa ini menjadi momentum penting bagi masyarakat dan pelajar untuk meningkatkan minat terhadap ilmu astronomi. Banyak komunitas pengamat langit diperkirakan akan mengadakan kegiatan nonton bareng gerhana sebagai sarana edukasi dan diskusi ilmiah. Dengan durasi totalitas yang cukup lama, masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk mengamati perubahan warna dan kecerahan Bulan secara bertahap hingga kembali ke fase normalnya.

Reporter: Aulia Suci Rahmadhani

Loading

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *