BIOma – Keanekaragaman hayati di Indonesia baru saja mencatat temuan yang sangat penting. Para peneliti berhasil menemukan dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Ini membuktikan bahwa hutan tropis Indonesia masih memiliki banyak spesies yang belum diketahui secara luas. Penemuan ini juga menambah daftar keanekaragaman fauna di Indonesia dan memperkuat posisi negara kita sebagai salah satu pusat biodiversitas terbesar di dunia.
Dua spesies ngengat baru ini diberi nama Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis. Menurut laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional, keduanya termasuk dalam kelompok ngengat yang biasanya memiliki larva yang memakan tumbuhan. Glyphodella fojaensis ditemukan di Pegunungan Foja, Papua, sedangkan Chabulina celebesensis ditemukan di Sulawesi.
Menurut brin.go.id, penemuan ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi. Mereka melakukan analisis morfologi terhadap spesimen yang diperoleh dari lapangan dan koleksi di Museum Zoologicum Bogoriense. Analisis ini mencakup pengamatan bentuk sayap, pola warna, dan struktur anatomi lainnya untuk menentukan klasifikasi spesies ngengat.
Dilansir dari Tempo.co, Glyphodella fojaensis memiliki ciri khas berupa pola warna pada sayap yang membedakannya dari spesies lain. Nama “fojaensis” diambil dari lokasi penemuannya di Pegunungan Foja, yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sementara itu, Chabulina celebesensis dinamai berdasarkan nama latin Pulau Sulawesi, yaitu Celebes.
Mengutip dalam Detik.com, para peneliti memastikan bahwa ini adalah spesies baru setelah membandingkannya dengan spesies yang telah dideskripsikan sebelumnya. Dimana penemuan dua spesies ngengat ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Raffles Bulletin of Zoology. Ini menunjukkan bahwa penelitian telah melalui proses kajian ilmiah yang ketat dan diakui oleh komunitas ilmuwan global. Penemuan ini juga mengingatkan kita bahwa kekayaan hayati Indonesia masih memiliki banyak potensi ilmiah yang perlu terus diteliti dan dilindungi melalui upaya konservasi.
Reporter : Maisya Audia
![]()

